Selasa, 01 Agustus 2017

KELUH KESAH SANG TUKANG PARKIR

Hari dan Tanggal : Rabu,12 Juli 2017
Pukul : 06.00 WIB
Tempat : halaman parkir mobil (suatu rumah sakit terkemuka di Semarang)

Hari ini untuk kesekian kalinya saya kembali mengantar Bapak untuk Cek Up usai Operasi yg kemarin baru saja dilewatinya. Seperti biasanya juga, agar tidak terlalu lama antri kami berusaha datang lebih awal sekitar pukul 06.00 berharap mendapatkan nomer antrian yg lebih awal, dan jreng jreng... alhasil nomer antrian 52 lah yg kami dapatkan. Sempat bertanya2 lalu kira2 yg nomer antrian pertama datangnya jam berapa ya? Hmm...
Sambil menunggu kami putuskan sedikit bersantai di halamannya, maklum lah kalau orang sakit kelamaan dirumah sakit pasti jenuh kan?
Sambil kami ngobrol, kami juga memperhatikan setiap orang dan kendaraan yg lalu lalang di depan kami. Tak luput juga dari pandanganku seorang tukang parkir yang sejak tadi mondar mandir mengatur kendaraan yg datang untuk parkir. Dengan wajah yg nampak lelah dan peluh yg mengalir diwajah ia nampak berusaha menjalankan pekerjaannya dengan sebaik baiknya. Bukan hanya asal parkir saja, namun hingga hal yg sangat sepele pun diperhatikannya seperti mengingatkan lampu mobil yg lupa belum dimatikan dll.
Sesaat kemudian sang tukang parkir tersebut bersandar tidak jauh dari tempat ku yang kemudian terjadilah percakapan ringan diantara kami yg ternyata sama2 berasal dari Mranggen hingga akhirnya beliau pun berkeluh kesah pada kami akan suka dukanya sebagai tukang parkir. Sebuah pekerjaan yg dianggap sepele namun menurut q jika benar2 dijalankan dengan penuh syukur akan menjadi pekerjaan yg kaya berkah pahala.
Beliau bercerita tentang keunikan orang2 yg berkunjung di RS tersebut. Ada yg di tata (nggenahke) parkirnya malah marah2 padahal cara dia parkir tadi salah dan menghadangi jalan, ada ibu2 yg parkir mobil sambil bertelpon ria hingga tidak dengar teriakan tukang parkir yg alhasil si mobil pun terus saja mundur hingga mencium badan pohon, lalu juga ada yg parkir motor sembarangan di depan mesin ATM yg berada di jalanan dan tidak mau di ingatkan yg kemudian motornya harus diangkat bersama2 oleh para tukang parkir karena membuat macet jalan, selain itu juga ada yg parkir tepat di depan pintu masuk RS padahal itu jalan keluar masuk utama RS gimana kalau ada pasien datang?
Dari semua ceritanya ada dua kesimpulan yg bisa saya ambil bahwa manusia sekarang cenderung meremehkan orang lain dan Egois sehingga kurang mampu berempati pada yg lainnya.
Padahal seingat saya dahulu guru sekolah dasar saya saya mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk monodualisme dimana ia adalah makhluk yg butuh waktu sendiri namun tidak bisa sendiri selamanya, tetap butuh bantuan orang lain. Dan saya memang yakin bahwa tidak ada di dunia ini manusia yg bisa hidup tanpa bantuan apa2 dari orang lain.
Namun realita sekarang sangat memprihatinkan. Kita justru hanya peduli pada diri kita sendiri dan masa bodo pada orang disekitar kita. Contoh sederhananya pada Tukang parkir tadi. Walaupun itu hanya pekerjaan yg sederhana tp bukan berarti tidak penting bukan?
Bayangkan jika tidak ada tukang parkir lalu motor dan mobil tidak bisa tertata rapi hingga menghalangi jalan, bukankah merepotkan? Jadi semua pekerjaan itu penting, jangan di sepele kan. Walaupun pekerjaan mereka sepele dan mungkin pendapatan mereka sedikit namun jika tiada mereka bukan kah kita juga repot?
Berkaitan tentang sikap egois yg membuat kita kehilangan empati. Ini juga sangat memalukan karena Indonesia terkenal akan budaya bangsa ketimurannya yg sopan santun dan ramah tamah tapi bagaimana jika adat tersebut lenyap dari kita?
Menurut saya sih, sistem pendidikan di Indonesia ini perlu sedikit diperbaiki. Sehingga tidak berpedoman pada PINTAR atau tidaknya seorang anak saja namun juga kepada sikap (akhlak mulia) sehingga anak tidak hanya sekolah demi mencari NILAI tetapi juga harus mampu membentuk akhlaknya. Bukankah itu peran pendidikan sebenarnya?
Para guru juga harus di beri kepercayaan agar tidak hanya sekedar mengajarkan ilmu matrmatika, bahasa dll namun juga menata perilaku anak. Dan itu adalah tugas dari segala pihak mulai dari orang tua, lingkungan sekitar dan juga sekolah. Semua harus berkolaborasi bersama demi perkembangan anak.
Jadi kesimpulannya nih ya...
Dalam hidup ini nilai itu memang penting tetapi bukan segalanya. Ada hal yg tidak akan mampu untuk di ukur dengan nilai sehingga sala jika kita menafsirkan bahwa nilai tinggi pastilah hebat. Namun manusia yg hebat adalah dia yg pintar namun kepintarannya bermanfaat untuk sesama. Bukan hanya untuk diri sendiri...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar