Kamis, 17 Agustus 2017

Ijinkan anak-anak kendarai motor. Adakah mental yg salah dari orang tua?


Zaman sekarang sepertinya sudah bukan jamannya anak-anak berangkat ke sekolah naik sepeda. Karena ini jamannya anak-anak mau sekolah kalau boleh mengendarai motor sendiri. Kenapa saya katakan demikian? Kita lihatlah lingkungan sekitar kita dimana banyak orang tua yg mengijinkan anaknya yg masih sekolah SD / SMP yg notabene belum memiliki SIM mengendarai kendaraan bermotor. Atau kalau yg high class ya pakainya mobil lah... padahal sudah sangat jelas jika itu melanggar aturan berlalu lintas. Tapi orang tua malah seperti merasa bangga kalau anaknya sudah bisa berangkat sekolah sendiri naik motor.

Padahal kalau kita mau memperhatikan mereka, anak yg sudah di ijinkan naik motor sendiri, bagaimana sih perilakunya saat berkendara di jalan raya? Safety gak? Sebagian besar sih bukannya berkendara dengan aman tapi justru sengaja buat keren-kerenan trus mereka balapan (trek-trekan) tuh...


Nah ini nih yg saya maksut "apakah mental orang tuanya sehat?"
Ini akan jadi seperti buah simalakama yg jika dimakan ayah mati, kalau tidak dimakan ibu yg mati. Kenapa begitu? Gini nih guys... saat anak di ijinkan naik motor sendiri dan mereka hanya ingin berlagak keren kemudian balapan di jalan raya dan sampai terjadi hal yg tidak di inginkan seperti kecelakaan bukankah anda seperti mencelakai anak anda sendiri? Kemudian jika tidak di ijinkan naik motor sendiri malah anak gak mau sekolah. Nah loo... trus gimana donk? Serba salah kan?
Disini peran dan sikap orang tua akan sangat di uji. Jika anda memang sudah benar-benar siap menjadi orang tua pastinya anda sudah mempertimbangkan segala hal terburuk yg akan terjadi nantinya. Nah disini orang tua harusnya bisa bersikap lebih tegas kepada anak. Tunjukkan jika anda adalah orang tua yg bisa di segani oleh anak dan bukannya malah kalah dengan ngambeknya anak lalu mengijinkan segala keinginan anak tadi. Karena sekali anak anda beri ijin untuk melakukan tindakan serupa maka di kemudian hari ia akan kembali meminta hal yg lain lagi dengan cara serupa karena yakin anda tidak akan bisa menolaknya.

Nah jika sudah seperti itu jangan pernah ya menyalahkan jika anak anda jadi anak yg tidak mau mendengarkan perkataan anda atau bahkan berani melawan kehendak anda.

Coba deh kita ingat pola didik atau pola asuh orang tua kita dahulu dimana mereka bisa tegas pada anak dan tidak ada anak yg berani melawan orang tuanya
Ingat juga di era 90an bahwa anak itu berangkat sekolah ya naik sepeda dan kenyataannya mereka juga tumbuh besar menjadi anda sekarang kan?

Jadi gak usah pakai alasan aneh-aneh seperti "kasian nanti anak ketinggalan jaman" atau " kalau anak bisa naik motor kan orang tua gak usah repot nganterin anak sekolah" itu sih alasan buat kemalasan anda yg lebih peduli pada dunia anda sendiri dan tidak memperhatikan perkembangan anak anda.

Apalagi kalau sampai bilang "anak saya gak mau/malu kalau di antar sekolah" itu sih cuma masalah pola asuh anda. Bagaimana anda mendidik anak. Apakah anda mendidik anak sebagai anak yg belajar bersyukur atau justru sombong dengan kondisinya... mereka malu karena anda membesar-besarkan cerita tentang kehidupannya/ kehidupan anda pada orang lain karena itu anak jadi mengikuti perilaku anda tadi untuk gak mau terlihat biasa di hadapan orang dan cenderung menjadi anak yg suka sok pamer.

Ingat ya bapak ibu...tugas utama orang tua adalah MENDIDIK ANAK bukan hanya sekedar MEMBERI UANG. Mereka butuh kehadiran anda, perhatian dan kasih sayang anda.

Ini hanya sekedar opini dari saya karena merasa miris dengan sikap orang tua di jaman sekarang tanpa bermaksut menyinggung atau pun melecehkan. Mari kita jadika ini sebagai sarana introspeksi diri agar kita bisa menjadi lebih baik

Salam hormat untuk seluruh orang tua di Indonesia

posted from Bloggeroid

Selasa, 01 Agustus 2017

"ANAK ADALAH HASIL LUKISAN ORANG TUA”

Pernikahan. Adakah manusia di dunia ini yg dalam hidupnya tidak pernah terbersit sedikitpun keinginan untuk menikah?
Adakah manusia yg diciptakan di dunia ini memang agar tidak memiliki pasangan?
Dan adakah sosok orang tua yg tidak menginginkan kehadiran anak dalam kehidupan mereka?

Dari ketiga pertanyaan diatas saya rasa jawabannya hanya ada satu, yaitu “TIDAK”
Karena saya yakin bahwa tujuan manusia hidup di dunia ini salah satunya adalah agar mendapatkan pasangan agar dapat bereproduksi. So...pastilah keluarga belum dapat dikatakan lengkap tanpa kehadiran Anak2.

Eits, namun bukan berarti setelah memilki anak lalu habis perkara ya...
Justru itu baru awalnya saja. Tugas anda sebagai orang tua bukan hanya MEMBUAT anak namun juga wajib merawat, menyayangi, dan memberikan PENDIDIKAN yg layak baginya.
Karena sosok seorang anak akan mendapatkan pembelajaran/pendidikan pertama dan utama itu melalui sosok orang tuanya
Nah jadi peran orang tua itu besar banget lho guys...
Maaf nih ya, bisa saya katakan banyak orang tua yg pola pikirnya salah kaprah. Kenapa saya katakan begitu?
Sekarang ini banyak orang tua yg teramat sangat sibuk dengan pekerjaan dan aktivitas pribadinya hingga lupa untuk merawat dan mendidik anaknya
Atau mungkin,seorang ayah yg terlalu mencurahkan hidupnya hanya pada pekerjaannya karena menurutnya tugasnya hanya memberi uang yg diminta si anak.
Nah, itu dua contoh yg amat salah lho. Memang manusia hidup itu perlu bekerja. Namun jangan sampai kita diperbudak pekerjaan kita dong...
Apalagi sampai acuh pada keluarga dirumah.
Nah trus tujuan anda bekerja untuk apa donk? Bukannya anda bekerja itu untuk kehidupan keluarga? Lalu kenapa malah acuh pada keluarga?
Anak anda tidak hanya butuh uang untuk kehidupannya. Ia juga butuh kehadiran anda sebagai orangtuanya yg mampu memberi kasih sayang, perhatian dan rasa aman agar anak dapat tumbuh secara optimal sesuai tahapan perkembangannya. Karena anak itu adalah hasil kreasi SENI lukis dari kedua orang tuanya. Dimana untuk memperoleh lukisan yg indah itu tidak semudah memberikan kritikan pedas dari para juri ajang pencarian bakat di televisi lho ya...
Butuh usaha, modal dan tekat yg luar biasa agar karya lukisan itu dapat tercipta. Anda butuh KANVAS yg bersih dan siap pakai, lalu anda juga butuh cat warna/tinta untuk melukis rangkaian garis hingga menjadi suatu gambar, dan yg pasti harus ada kemantapan pemikiran, skill dan ide dari sang pelukis sendiri. Jika komponen2 tersebut telah ada maka akan terciptalah suatu maha karya lukisan yg indah.
Nah bagaimana jika KANVAS kita analogikan sebagai lingkungan tumbuh kembang anak
Lalu tinta/cat warna sebagai pola asuh/sistem pendidikan
Dan ide/skill pelukis sebagai kesamaan visi misi kedua orang tua dalam mendidik anak
Ketiga komponen diatas haruslah berjalan beriringan dan saling mendukung. Karena kehilangan salah satu komponen saja akan sangat mempengaruhi proses pembentukan kepribadian anak.
Terutama pada bagian peran orang tua sebagai pelukis. Jika si pelukis tidak memiliki konsistensi pada proses pengerjaan karyanya tadi maka akan terciptalah karya yg kurang jelas tujuan dan manfaat pembuatannya. Dalam hal ini terciptalah kebingungan anak dalam pertumbuhannya.
Contoh sederhananya seperti ini:
Biasanya orang tua ingin anaknya menjadi anak yg baik sehingga sering berpesan pada anaknya agar ketika berkendara di jalan raya haruslah mematuhi peraturan yg ada yaitu wajib mengenakan helm,memiliki surat ijin dan mematuhi tata tertib berlalu lintas. Namun ketika mereka sedang berada di jalan raya dengan posisi sang orang tua mengendarai kendaraan dan anaknya membonceng dibelakangnya malah orang tuanya melakukan pelanggaran tata tertib berlalu lintas yaitu menerobos traffic light ketika masih menunjukan warna merah. Nah ini lah contoh penyebab kebingungan anak. Karena perkataan dan tindakan orang tua yg tidak sesuai itu akan memicu anak untuk ikut mencontohnya.
Jika sudah begini maka hasil lukisan anda tidak akan sesuai dengan kehendak awal anda. Dan asal anda tau, itu bukan salah lukisannya. Itu kesalahan pelukisnya. Jadi jangan salahkan kalau anak2 sekarang berani membangkang perkataan orang tuanya bahkan berani melawan. Semua itu karena proses melukis anda yg salah. Jangan marah pada lukisannya tapi marahlah pada pelukisnya yg menciptakan lukisan secara asal2an.
Nah ini lah peran utama bagi orang tua. Anda seharusnya mengutamakan keluarga anda diatas segala-galanya. Dan bukannya hanya memberi uang lalu masa bodoh pada perkembangan anak tapi menuntut anak harus menjadi lukisan master piece. Nah loo, mimpi kali neng? Gak bisa dong. Kalau ingin menciptakan lukisan yg berharga ya berarti jadilah pelukis yg totalitas untuk berkarya seni. Jangan nanggung apalagi asal-asalan.
Anak itu titipan Tuhan woy... bukan hasil coba2.

Mohon maaf kepada seluruh orang tua sekalian, tulisan saya ini bukan bermaksut mengkritik anda. Karena saya sadar bahwa sampai detik saya menulis ini pun saya belm lah berkeluarga sehingga dalam hal pengalaman mungkin saya kalah dibandingkan anda2 sekalian. Namun tulisan saya ini hanya bermaksut mengingatkan anda bahwa tugas yg sebenarnya dari orang tua bukan hanya mencari uang namun juga memberi kasih sayang, pendidikan yg layak dan juga rasa aman bagi anak. Dan jika nantinya ada yg berpikiran bahwa ini hanya tlisan dari anak bau kencur yg belum merasakan berkeluarga, maka cukup ingatlah bahwa walaupun saya belm berkeluarga dan memiliki anak sendiri namun saya memiliki kedua orang tua saya yg memberikan pendidika serupa kepada saya, anaknya.
“Terima Kasih”

posted from Bloggeroid

Catatan seorang suami

"Suamiku, Mantan Pacarmu Telepon Nih…" Begitu Tahu 'Jawaban Si Suami', Hati Semua Orang Langsung Bergetar dan Merinding!!

Istri: "Bang, HPmu bunyi tuh…"
Suami : Halo?
S : Iya, ini siapa?
W : Ini aku, Marissa…
S : Ooh! Wah, ada apa nih tiba- tiba telepon?
W : Kamu bisa keluar sebentar gak? Sekarang aku udah di depan rumahmu.

Ya, Marissa adalah mantan pacar Tommy dulu. Entah mengapa ia tiba- tiba menelepon Tommy yang sudah menikah, bahkan mengajaknya bertemu! Tommy akhirnya minta izin pada istrinya..

"Gakpapa, bang, temui aja dulu… Aku percaya kok sama kamu!", kata istrinya.
Dibawah ini Marissa akan disingkat menjadi 'M', dan Tommy menjadi 'T'.

M : Pergi minum teh, yuk!
T : Ada masalah apa? Omongin sekarang aja. Udah malem nih, gak mungkin saya tinggalin istri di rumah sendirian, dia takut gelap.

M : Aku udah cerai!
T : Wah, kenapa? Bukannya suamimu sayang banget sama kamu?
M : Gak, dia brengsek! Bisa- bisanya dia selingkuh dibelakang…*sambil menangis*
T : Udah… udah…. Jangan sedih lagi, kamu masih muda kok, masih bisa cari yang lebih baik!
M : Kamu benci aku gak?
T : Tidak, semua masa lalu sudah dilupakan...
M : Serius?
T : Serius! Emang saya pernah bohong sama kamu?
M :Kamu masih cinta sama aku gak?
T : … Cinta…
M : Kalo gitu kita nikah aja! Aku janji kita bakal jadi suami istri yang baik dan saling menyayangi!
T : Marissa, saya sudah menikah…
M : Kenapa? Bukannya kamu cintanya sama aku?
T : Gak bisa, istri saya sangat mencintai saya, saya gak mungkin melukai dia…
M : Kalau kamu gak berani ngomong, biar aku yang ngomong!
T : Gak bisa!
M : Memangnya kenapa?
T : Karena saya adalah seorang pria.
M : Kasih aku alasan yang jelas! Jelas- jelas kamu masih cinta sama aku, aku juga cinta sama kamu, kenapa kita gak bisa bersama?
T : Kamu beneran ingin tahu alasannya?
M : Iya…

Tommy pun menjawab..
1. Saya tahu mencintai seseorang itu tidak mudah, bahkan saya lebih mengerti bagaimana sakitnya dikhianati! Karena itu saya tidak ingin mengkhianati istri saya..
2. Yang memutuskan memilih dia sebagai pasangan hidup adalah saya, yang mengambil keputusan untuk menikahi dia juga saya. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk memfokuskan hidup saya pada dia, saya tidak boleh melakukan hal- hal yang membuat dia sedih. Apapun masalah yang akan menimpa keluarga kami kedepannya, saya pasti tetap akan berdiri disampingnya dan melindunginya.
3. Dia sangat mencintai saya, dia sangat polos dan sangat baik. Ia melakukan dan memikirkan segala hal untuk saya. Sekarang saya bisa berada di hadapan kamu, juga karena dia yang menyuruh saya menemuimu. Dia tahu saya tidak akan meninggalkan dia, makanya dia pun setuju untuk menikah dan menyerahkan sepenuh hidupnya kepada saya. Kehidupan seorang wanita yang sudah menyerahkan diri, sama sekali tidak boleh diinjak!

T : Mengerti?
M : Iya, ngerti… Kalo gitu, kita jadi teman baik aja gimana?
T : Gak perlu, saya gak perlu teman wanita lain lagi selain istri saya!
M : Kenapa? Jelasin alasannya!

Tommy menjawab lagi..
Pertama, ketertarikan kita gak sama. Saya suka ini, kamu suka itu…
Kedua, kamu tidak akan bisa memberikan kepuasan seperti yang sudah istri saya berikan.
Ketiga, saya tidak punya waktu untuk menemani kamu belanja atau makan, karena saya akan melakukan semua hal itu dengan istri saya.
Keempat, istri saya bisa cemburu.
Jadi buat apa berteman sama kamu?

Hal yang paling membanggakan untuk pria bukan soal sudah meniduri berapa banyak wanita, melainkan bisa memiliki seorang wanita yang bersedia 'tidur' dengannya seumur hidup.
Hal yang paling membanggakan untuk wanita bukan soal memiliki berapa banyak pria, melainkan berapa banyak wanita yang bisa ditolak oleh pasangannya.

Pria, harus bisa menahan daya tarik dan godaan.
Sedangkan wanita, harus bisa bersabar terhadap rasa kesepian.

Saat istri saya masih gadis, ia hidup dengan keluarganya, dari kecil gak pernah makan sebutir beras dan minum setetes air pun dari keluarga suaminya. Tapi saat sudah menikah, ia harus meninggalkan keluarganya dan menyerahkan setengah masa hidupnya pada saya, ia juga harus menganggap orangtua dan saudara saya sebagai keluarganya. Kamu pikir aja, kalau saya tidak baik pada dia, apa saya masih bisa baik pada hati nurani saya sendiri?

Saat pria menemukan makanan kesukaannya, mereka pasti akan makan sangat banyak sampai puas. Akhirnya perut pun begah dan merasa tidak enak badan. Bayangkan saja, perut baru begah sebentar, para pria sudah tidak bisa tenang, apalagi wanita yang perutnya harus 'begah' selama 10 bulan saat hamil nanti? Tidak hanya itu, setelah bersakit- sakit hamil dan melahirkan, marga anak yang keluar nanti pun harus ikut ayahnya.....
Jadi, kalau saya jahat pada istri, bagaimana saya bisa mempertanggungjawabkan pengorbanan istri yang sangat besar itu?

Oleh karena itu, para suami dan pria yang baik. Janganlah bersikap jahat dan mengkhianati istri yang begitu mengagungkanmu.

Pria dan wanita sama- sama bisa 'sensitif', namun arah kesensitifannya berbeda. Pria sangat sensitif dalam melihat suatu hal atau masalah, bila ada hal yang tidak beres, maka pria akan marah; Wanita sangat sensitif pada perkataan, bila ia mendengar suatu kata atau kalimat yang tidak enak, maka ia sangat mudah untuk memasukkan kata- kata tersebut ke dalam hati dan sedih… Jadi, sebagai seorang pria, kamu harus menurunkan gengsimu, seringlah berkata manis pada istrimu, manjakan dia, dan buat dia senang…

Jangan pernah membandingkan istrimu dengan wanita lain. Fisik setiap orang memang berbeda- beda, mungkin di luar sana banyak wanita yang lebih cantik dan menarik, tapi yang setia belum tentu banyak. Bila kamu sudah mendapatkan istri yang begitu baik dan mengabdi padamu, hargailah dia.

Wanita zaman sekarang pun sudah banyak yang berkarir,sama seperti pria, mereka juga lelah bekerja seharian di luar sana. Terlebih lagi setiap bulannya wanita harus mengalami "penyiksaan datang bulan" selama beberapa hari, percaya deh, jadi wanita itu lebih capek. Setelah pulang kerja, wanita juga masih harus mengurus pekerjaan rumah, anak dan melayani suaminya. Jadilah suami yang bisa mendukung istrimu, ada pepatah mengatakan: Bila suami dan istri bekerja sama, maka keduanya tidak akan lelah. Hal ini bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti di pekerjaan, rumah, menjaga anak dan lain sebagainya.

Sayangilah istrimu sendiri, bila kamu menemukan pasangan hidup yang bahkan lebih mencintaimu daripada dirimu sendiri, maka hidupmu pasti akan jauh lebih mudah!

Peluk dan kecuplah ia setiap pagi, berterima kasihlah padanya ketika ia membantumu mengurusi segala urusan rumah tangga dan anak, hibur dia saat sedih, lindungi dia dari segala hal yang jahat

@ copas
#selamatmembaca

Ya Allah, dengan segala restuMU izinkanlah hamba menjadi Pria yg mampu memuliakan istri
Serta menjadi Pria yg mampu melindungi ketiga wanita titipanmu, yaitu:
1. Ibu
2. Istri
3. Saudara perempuan

posted from Bloggeroid

KELUH KESAH SANG TUKANG PARKIR

Hari dan Tanggal : Rabu,12 Juli 2017
Pukul : 06.00 WIB
Tempat : halaman parkir mobil (suatu rumah sakit terkemuka di Semarang)

Hari ini untuk kesekian kalinya saya kembali mengantar Bapak untuk Cek Up usai Operasi yg kemarin baru saja dilewatinya. Seperti biasanya juga, agar tidak terlalu lama antri kami berusaha datang lebih awal sekitar pukul 06.00 berharap mendapatkan nomer antrian yg lebih awal, dan jreng jreng... alhasil nomer antrian 52 lah yg kami dapatkan. Sempat bertanya2 lalu kira2 yg nomer antrian pertama datangnya jam berapa ya? Hmm...
Sambil menunggu kami putuskan sedikit bersantai di halamannya, maklum lah kalau orang sakit kelamaan dirumah sakit pasti jenuh kan?
Sambil kami ngobrol, kami juga memperhatikan setiap orang dan kendaraan yg lalu lalang di depan kami. Tak luput juga dari pandanganku seorang tukang parkir yang sejak tadi mondar mandir mengatur kendaraan yg datang untuk parkir. Dengan wajah yg nampak lelah dan peluh yg mengalir diwajah ia nampak berusaha menjalankan pekerjaannya dengan sebaik baiknya. Bukan hanya asal parkir saja, namun hingga hal yg sangat sepele pun diperhatikannya seperti mengingatkan lampu mobil yg lupa belum dimatikan dll.
Sesaat kemudian sang tukang parkir tersebut bersandar tidak jauh dari tempat ku yang kemudian terjadilah percakapan ringan diantara kami yg ternyata sama2 berasal dari Mranggen hingga akhirnya beliau pun berkeluh kesah pada kami akan suka dukanya sebagai tukang parkir. Sebuah pekerjaan yg dianggap sepele namun menurut q jika benar2 dijalankan dengan penuh syukur akan menjadi pekerjaan yg kaya berkah pahala.
Beliau bercerita tentang keunikan orang2 yg berkunjung di RS tersebut. Ada yg di tata (nggenahke) parkirnya malah marah2 padahal cara dia parkir tadi salah dan menghadangi jalan, ada ibu2 yg parkir mobil sambil bertelpon ria hingga tidak dengar teriakan tukang parkir yg alhasil si mobil pun terus saja mundur hingga mencium badan pohon, lalu juga ada yg parkir motor sembarangan di depan mesin ATM yg berada di jalanan dan tidak mau di ingatkan yg kemudian motornya harus diangkat bersama2 oleh para tukang parkir karena membuat macet jalan, selain itu juga ada yg parkir tepat di depan pintu masuk RS padahal itu jalan keluar masuk utama RS gimana kalau ada pasien datang?
Dari semua ceritanya ada dua kesimpulan yg bisa saya ambil bahwa manusia sekarang cenderung meremehkan orang lain dan Egois sehingga kurang mampu berempati pada yg lainnya.
Padahal seingat saya dahulu guru sekolah dasar saya saya mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk monodualisme dimana ia adalah makhluk yg butuh waktu sendiri namun tidak bisa sendiri selamanya, tetap butuh bantuan orang lain. Dan saya memang yakin bahwa tidak ada di dunia ini manusia yg bisa hidup tanpa bantuan apa2 dari orang lain.
Namun realita sekarang sangat memprihatinkan. Kita justru hanya peduli pada diri kita sendiri dan masa bodo pada orang disekitar kita. Contoh sederhananya pada Tukang parkir tadi. Walaupun itu hanya pekerjaan yg sederhana tp bukan berarti tidak penting bukan?
Bayangkan jika tidak ada tukang parkir lalu motor dan mobil tidak bisa tertata rapi hingga menghalangi jalan, bukankah merepotkan? Jadi semua pekerjaan itu penting, jangan di sepele kan. Walaupun pekerjaan mereka sepele dan mungkin pendapatan mereka sedikit namun jika tiada mereka bukan kah kita juga repot?
Berkaitan tentang sikap egois yg membuat kita kehilangan empati. Ini juga sangat memalukan karena Indonesia terkenal akan budaya bangsa ketimurannya yg sopan santun dan ramah tamah tapi bagaimana jika adat tersebut lenyap dari kita?
Menurut saya sih, sistem pendidikan di Indonesia ini perlu sedikit diperbaiki. Sehingga tidak berpedoman pada PINTAR atau tidaknya seorang anak saja namun juga kepada sikap (akhlak mulia) sehingga anak tidak hanya sekolah demi mencari NILAI tetapi juga harus mampu membentuk akhlaknya. Bukankah itu peran pendidikan sebenarnya?
Para guru juga harus di beri kepercayaan agar tidak hanya sekedar mengajarkan ilmu matrmatika, bahasa dll namun juga menata perilaku anak. Dan itu adalah tugas dari segala pihak mulai dari orang tua, lingkungan sekitar dan juga sekolah. Semua harus berkolaborasi bersama demi perkembangan anak.
Jadi kesimpulannya nih ya...
Dalam hidup ini nilai itu memang penting tetapi bukan segalanya. Ada hal yg tidak akan mampu untuk di ukur dengan nilai sehingga sala jika kita menafsirkan bahwa nilai tinggi pastilah hebat. Namun manusia yg hebat adalah dia yg pintar namun kepintarannya bermanfaat untuk sesama. Bukan hanya untuk diri sendiri...